Ketika
dulu hanya sekadar bernyanyi “..naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi
sekali” kamarin 7-8 Februari 2014 lagu itu menjadi backsong perjalananku serta menjadi
ajang pembuktian bawa lagu itu memang tidak bohong ahaha :D Mimpi yang
aku tulis pada 100 impian hidup, tepat pada nomer 32 yang bertuliskan “naik
gunung” sudah tercoret rapi pertanda bahwa mimpi itu sudah tercapai.
Kalau
dipikir-pikir tak ada yang mengenakkan ketika perjalanan kemarin, sakit, pegal,
capek, dingin semua jadi satu. Malah ketika mulai naik ke pos 2 aku
bertanya-tanya pada diriku sendiri “..aku
kie meh ngopo to iki, tak rewangi kesel-kesel ora cetho koyo ngene”. Namun
ada sebuah kenikmatan tersendiri dari itu semua. Dimana tak semua orang mampu
menapakkan kaki dipuncak lawu, melewati jalan terjal dan berliku, merefleksi
diri serta memaknai hidup yang sebenarnya.
Berawal
dari janji (disertai tekanan dari beberapa pihak juga) seorang
kepala sekolah SPB ingin mengajak muncak pasca pembubaran panitia, rencana yang
pernah menjadi wacana kini sudah terealisasi dengan indahnya. Setelah melalui
beberapa pertimbangan pada akhirnya permintaan MENWA (Menteri Wacana) untuk
naik ke lawu saja daripada ke sumbing terkabulkan.
Yak,
bersama oknum-oknum berikut: Doni, Zefa, Aji, Riyan, Kak Tria, Kiki, Anis, Mas
Ruslan, Dayu, Dede, Mbak Dela, dan Mas Syahid yang tiba-tiba menyusul pendakian
dimulai. Dari basecamp menuju pos satu, semangatnya masih berkobar dan masih
bisa ketawa-ketiwi diperjalanan meskipun pada akhirnya disuruh diem juga. Lukisan
langit dan sorot lampu kota dibawah sana cukup meringankan beban kami, bebanku
sih lebih tepatnya karena harus bawa tas carrier segede dan seberat itu.
Awalnya udah senang-senang aja nih ada yang mau bawain (katanya), tapi kok pas
mau berangkat malah aku sendiri yang bawa. Dengan modus “biar loe belajar, kalau gak gini loe gak akan mulai belajar. Nanti
kalau udah gak kuat bilang, tak bawain”. Salahku dibagian ini nih, kenapa
aku percaya-percaya aja gitu loh ckckck, Jangan-jangan sakitmu dan kegagalan sampai
puncakmu gara-gara gak jadi bawain carrierku ahahah :D
Pos
1 meuju pos 2, ya namanya juga gunung, kebanyakan naiknya daripada turunya
kalau lagi berangkat. Jalan makin terjal, cuaca makin dingin tapi badan makin
panas, hari juga semakin malam. Mulai banyak batu-batu besar berserakan dan
jalan setapak. Dari sini mualai banyak pertanyaan “mana sih posnya? Mana sih posnya? udah kelihatan belum? kok gak
nyampek-nyampek” dengan nada rendah menuju memelas. Dengan gampangnya yang
udah biasa naik gunung bakal bilang “itu
loh, udah kelihatan, atau 5 menit lagi sampai, gak jauh kok, atau dekat kok, udah
mau sampai tuh”, kemungkinan terbesar itu adalah prinsip anak gunung. Tahu sih,
mungkin niatnya baik biar tetap semangat jalannya, tapi terkadang kami juga
butuh kejuuuujuuuuuraaaannn wooyy… -_-
Pos
2 menuju pos 3. Ini jalur yang paling berat bagiku. Dimana intensitas
istiratnya paling banyak dan butuh bantuan banyak buat naik dari satu tangga ke
tangga selanjutnya. Buang pikiran kalau ini tangga aspal apalagi keramik,
tidaaakkk…!! Ini tangga batu, mau cari yang kerikil sampai sebesar 3 kepala
manusia aja ada dan itu harus dinaiki dengan jalan yang semakin berkelok. Di
pos ini untuk pertama kalinya, seorang Triana Rahmawati bisa diam atau mungkin lebih tepatnya kadar omongannya berkurang 95
persen. 5 persen sisanya itu adalah untuk teriak “pos tigaa..pos tigaa..udah ada yang nyampek belum??atau ayo han, kita
kuat kok, bisa kok bisa”. Padahal biasanya mau cari tombol pause aja susah.
Dan terkaparlah kami di pos 3 hingga pagi didalam tenda.
Lanjut
ke pos 4 dan 5 yang sebenarnya motivasi tertingginya adalah mencari keberadaan
warung mbok Yem. Warungnya sih ketemu tapi mbok Yemnya enggak, mungkin kemarin
yang bertugas jaga warung adalah pak Yem karena pas bayar yang ada cuma
bapak-bapak. Banyak warga asli yang lalu lalang dan berpapasan, subhanallah,
masak aku yang masih muda kalah dengan orang-orang yang kebanyakan sudah
berumur itu. Dengan lincah mereka menaiki, menuruni tangga dan jalan terjal.
Ya
karena mulai capek nulisnya, sekarang to the point aja. Ceritanya udah sampai
puncak lawu. Ya cuma melakukan kegiatan biasa, foto-foto, bikin video ucapan
ulang tahun sampai video tim sukses, semuanya mencantumkan kata-kata puncak
lawunya.
Sebanarnya
bukan semata-mata puncak yang aku cari, bagiku itu hanya bumbu penyedap dari sebuah
pendakian. Yang aku cari adalah makna dari realisasi mimpi itu sendiri. Mimpi
tak akan tercapai bila tidak diusahakan apalagi cuma dijadikan angan-angan dan
omong kosong doang. Ada orang bilang “Diamnya
Haniah adalah bicaranya” ada 2 kemunkinan, antara capek atau memang
berbicara dalam diam. Selama perjalanan aku memilih lebih banyak diam, bukan
karena capek tapi lelah haha :D lebih ke berbicara dengan diri sendiri,
mereflesksi diri. Aku yang dikampus, aku yang dirumah, aku yang dimasyarakat
akan berbeda dengan aku yang digunung. Serifikat sebanyak apapun, pengalaman
sebanyak apapun didunia kampus bisa jadi tak punya arti apa-apa digunung. Semua
tempat semua waktu dan semua kesempatan mengajarkan hal-hal yang berbeda, ia
tak bisa tiba-tiba datang begitu saja. Kesempatan yang sama tidak datang dua
kali, begitu juga dengan cita-cita dan mimpi yang kitalah seharusnya yang
menjemput karena tak mungkin datang sendiri.
Pengalaman
itu untuk dicari, dibagi, dan diterapkan, tak ada kata menunggu bahkan berdiam
diri. Dunia ini luas, sayang sekali bagi manusia yang ngakunya muda tapi
hobinya online didunia maya saja. Hidup cuma sekali buatlah berarti. Tuntutlah
ilmu semenjak dari gendongan bayi hingga liang lahat nanti. Subhanallah, Maha
Suci Allah yang telah menciptakan dunia ini.








0 komentar:
Posting Komentar