Sabtu, 29 Maret 2014

Mimpi Bawaku ke Puncak Lawu



Ketika dulu hanya sekadar bernyanyi “..naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali” kamarin 7-8 Februari 2014 lagu itu menjadi backsong perjalananku  serta menjadi  ajang pembuktian bawa lagu itu memang tidak bohong ahaha :D Mimpi yang aku tulis pada 100 impian hidup, tepat pada nomer 32 yang bertuliskan “naik gunung” sudah tercoret rapi pertanda bahwa mimpi itu sudah tercapai.
Kalau dipikir-pikir tak ada yang mengenakkan ketika perjalanan kemarin, sakit, pegal, capek, dingin semua jadi satu. Malah ketika mulai naik ke pos 2 aku bertanya-tanya pada diriku sendiri “..aku kie meh ngopo to iki, tak rewangi kesel-kesel ora cetho koyo ngene”. Namun ada sebuah kenikmatan tersendiri dari itu semua. Dimana tak semua orang mampu menapakkan kaki dipuncak lawu, melewati jalan terjal dan berliku, merefleksi diri serta memaknai hidup yang sebenarnya.
Berawal dari janji (disertai tekanan dari beberapa pihak juga) seorang kepala sekolah SPB ingin mengajak muncak pasca pembubaran panitia, rencana yang pernah menjadi wacana kini sudah terealisasi dengan indahnya. Setelah melalui beberapa pertimbangan pada akhirnya permintaan MENWA (Menteri Wacana) untuk naik ke lawu saja daripada ke sumbing terkabulkan.
Yak, bersama oknum-oknum berikut: Doni, Zefa, Aji, Riyan, Kak Tria, Kiki, Anis, Mas Ruslan, Dayu, Dede, Mbak Dela, dan Mas Syahid yang tiba-tiba menyusul pendakian dimulai. Dari basecamp menuju pos satu, semangatnya masih berkobar dan masih bisa ketawa-ketiwi diperjalanan meskipun pada akhirnya disuruh diem juga. Lukisan langit dan sorot lampu kota dibawah sana cukup meringankan beban kami, bebanku sih lebih tepatnya karena harus bawa tas carrier segede dan seberat itu. Awalnya udah senang-senang aja nih ada yang mau bawain (katanya), tapi kok pas mau berangkat malah aku sendiri yang bawa. Dengan modus “biar loe belajar, kalau gak gini loe gak akan mulai belajar. Nanti kalau udah gak kuat bilang, tak bawain”. Salahku dibagian ini nih, kenapa aku percaya-percaya aja gitu loh ckckck, Jangan-jangan sakitmu dan kegagalan sampai puncakmu gara-gara gak jadi bawain carrierku ahahah :D
Pos 1 meuju pos 2, ya namanya juga gunung, kebanyakan naiknya daripada turunya kalau lagi berangkat. Jalan makin terjal, cuaca makin dingin tapi badan makin panas, hari juga semakin malam. Mulai banyak batu-batu besar berserakan dan jalan setapak. Dari sini mualai banyak pertanyaan “mana sih posnya? Mana sih posnya? udah kelihatan belum? kok gak nyampek-nyampek” dengan nada rendah menuju memelas. Dengan gampangnya yang udah biasa naik gunung bakal bilang “itu loh, udah kelihatan, atau 5 menit lagi sampai, gak jauh kok, atau dekat kok, udah mau sampai tuh”, kemungkinan terbesar itu adalah prinsip anak gunung. Tahu sih, mungkin niatnya baik biar tetap semangat jalannya, tapi terkadang kami juga butuh kejuuuujuuuuuraaaannn wooyy… -_-
Pos 2 menuju pos 3. Ini jalur yang paling berat bagiku. Dimana intensitas istiratnya paling banyak dan butuh bantuan banyak buat naik dari satu tangga ke tangga selanjutnya. Buang pikiran kalau ini tangga aspal apalagi keramik, tidaaakkk…!! Ini tangga batu, mau cari yang kerikil sampai sebesar 3 kepala manusia aja ada dan itu harus dinaiki dengan jalan yang semakin berkelok. Di pos ini untuk pertama kalinya, seorang Triana Rahmawati bisa diam atau mungkin  lebih tepatnya kadar omongannya berkurang 95 persen. 5 persen sisanya itu adalah untuk teriak “pos tigaa..pos tigaa..udah ada yang nyampek belum??atau ayo han, kita kuat kok, bisa kok bisa”. Padahal biasanya mau cari tombol pause aja susah. Dan terkaparlah kami di pos 3 hingga pagi didalam tenda.
Lanjut ke pos 4 dan 5 yang sebenarnya motivasi tertingginya adalah mencari keberadaan warung mbok Yem. Warungnya sih ketemu tapi mbok Yemnya enggak, mungkin kemarin yang bertugas jaga warung adalah pak Yem karena pas bayar yang ada cuma bapak-bapak. Banyak warga asli yang lalu lalang dan berpapasan, subhanallah, masak aku yang masih muda kalah dengan orang-orang yang kebanyakan sudah berumur itu. Dengan lincah mereka menaiki, menuruni tangga dan jalan terjal.
Ya karena mulai capek nulisnya, sekarang to the point aja. Ceritanya udah sampai puncak lawu. Ya cuma melakukan kegiatan biasa, foto-foto, bikin video ucapan ulang tahun sampai video tim sukses, semuanya mencantumkan kata-kata puncak lawunya.
Sebanarnya bukan semata-mata puncak yang aku cari, bagiku itu hanya bumbu penyedap dari sebuah pendakian. Yang aku cari adalah makna dari realisasi mimpi itu sendiri. Mimpi tak akan tercapai bila tidak diusahakan apalagi cuma dijadikan angan-angan dan omong kosong doang. Ada orang bilang “Diamnya Haniah adalah bicaranya” ada 2 kemunkinan, antara capek atau memang berbicara dalam diam. Selama perjalanan aku memilih lebih banyak diam, bukan karena capek tapi lelah haha :D lebih ke berbicara dengan diri sendiri, mereflesksi diri. Aku yang dikampus, aku yang dirumah, aku yang dimasyarakat akan berbeda dengan aku yang digunung. Serifikat sebanyak apapun, pengalaman sebanyak apapun didunia kampus bisa jadi tak punya arti apa-apa digunung. Semua tempat semua waktu dan semua kesempatan mengajarkan hal-hal yang berbeda, ia tak bisa tiba-tiba datang begitu saja. Kesempatan yang sama tidak datang dua kali, begitu juga dengan cita-cita dan mimpi yang kitalah seharusnya yang menjemput karena tak mungkin datang sendiri.
Pengalaman itu untuk dicari, dibagi, dan diterapkan, tak ada kata menunggu bahkan berdiam diri. Dunia ini luas, sayang sekali bagi manusia yang ngakunya muda tapi hobinya online didunia maya saja. Hidup cuma sekali buatlah berarti. Tuntutlah ilmu semenjak dari gendongan bayi hingga liang lahat nanti. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan dunia ini.

0 komentar:

Posting Komentar