(Hastag)SatuHari
Pagi ini ban-ban usang memutar
jeruji, menantang pematang terjal yang beralasan. Medan yang menikam, menukik,
dan menikung bukan alasan untuk tidak datang pada jamuan sederhana dari
kesekjenan. Kami sengaja menjatukan posisi dipuncak perkebunan, karena kami tak
mau memberikan kekecewaan akan pohon-pohon teh yang gersang diawal gerbang. Yang
kami mau adalah suguhan yang indah, segar dan menggembirakan bagi kalian para
pemikir-pemikir kelas berat untuk sejenak peduli pada kebahagiaan diri sendiri.
(hastag)SatuHari adalah kado yang mendadak terselenggara, agar tak ada satu
hari pun hutang kebersamaan yang harus kami catat dibuku catatan pleno akhir
nanti.
Tak ada lapangan luas dan
datar. Meski begitu kita wajib bersyukur masih ada tempat sempit yang semakin
mempersempit jarak diantara kita. Lahan yang bergelombang mewajibkan kita untuk
berhati-hati dalam melangkah meskipun kelihatannya sederhana namun percayalah
itu mengandung bahaya juga.
Ya..hanya satu
permainan yang bisa kami haturkan, kalau mau tahu, ada banyak sesi yang sudah
tercatat rapi dirundown acara (Hastag)SatuHari. Tak apa, toh satu itu saja sudah
membuat kami bahagia melihat senyum dan canda kalian yang lepas. Situasi yang
mungkin sudah sangat jarang ditemui ketika kita sibuk mengatur jam-jam
terlaksananya sebuah acara ataupun agenda lainnya. Senyum yang mulai mahal
ketika kita disibukkan oleh urusan yang banyak dicibir orang dari belakang. Tak
ada hadiah, karena kehadiran teman-teman yang lain adalah hadiah yang tak mampu
kami setarakan dengan benda apapun dimuka bumi ini.
Kita duduk melingkar,
melahap sebungkus nasi yang panas. Bukan panas karena api kompor namun panas
alam yang tak satupun manusia mampu menciptakannya, bola api langit. Kami percaya
bahwa meja makan mampu membuat kondisi lebih nyaman, meskipun tadi hanya
beralaskan tikar plastik bekas acara pencerdasan anak-anak bangsa. Bukan enak
tidaknya atau mahal tidaknya sesuap nasi yang kita makan, melainkan bagaimana
cara kita mensyukuri dan menyetarakan diri masing-masing pribadi dalam satu
keluarga ini.
Ketika awan rendah itu
datang membawa tabungan air hujan, kalian tahu apa yang kami pikirkan? yang
kami pikirkan adalah bagaimana cara kami melindungi semua bagian dari keluarga
ini agar tak ada satu tetes air hujan pun yang menyakiti. Namun, Allah berkata
lain. Rezeki hujan itu datang membawa kesejukan pada kita. Sempat terpikir
sejenak saat semua tangan bergandengan, melingkar dan melepas ganjalan yang
terhimpit diperasaan masing-masing, tiba-tiba saja hujan berhenti sendiri. Apakah
dia tahu bahwa ketika satu orang merasakan sakit maka yang lainnya juga
merasakan hal serupa? Atau karena Allah masih memberikan kesempatan kepada kita
agar sejenak saling menikmati kebersamaan ditengah-tengah alam yang sepi namun
banyak saksi. Saksi (Hastag)SatuHari ini adalah pucuk-pucuk teh yang bisu, dia
akan menjaga rahasia kita sampai para petani mematahkan tulangnya. Kebersamaan (Hastag)SatuHari
ini hanya Tuhan, kita dan pucuk teh yang yang tahu.
Kekecewaan pasti mampir
pada insan yang tak sempat datang. Sebelum kamu meminta untuk dimengerti maka
terlebih dahulu mengertilah orang-orang disekitarmu. Kami mengerti bahwa
teman-teman BEM UNS yang tidak sempat mengikuti sedang mencari ilmu dibelahan
bumi lainnya. Semoga sosok-sosok yang belum berkesempatan muncul difoto kabinet
siang ini juga membawa satu cerita yang sama-sama bahagia dari belahan bumi
sana.
12.31 WIB
Haniah








0 komentar:
Posting Komentar