Jumat, 28 Maret 2014

(hastag)SatuHari



(Hastag)SatuHari
Pagi ini ban-ban usang memutar jeruji, menantang pematang terjal yang beralasan. Medan yang menikam, menukik, dan menikung bukan alasan untuk tidak datang pada jamuan sederhana dari kesekjenan. Kami sengaja menjatukan posisi dipuncak perkebunan, karena kami tak mau memberikan kekecewaan akan pohon-pohon teh yang gersang diawal gerbang. Yang kami mau adalah suguhan yang indah, segar dan menggembirakan bagi kalian para pemikir-pemikir kelas berat untuk sejenak peduli pada kebahagiaan diri sendiri. (hastag)SatuHari adalah kado yang mendadak terselenggara, agar tak ada satu hari pun hutang kebersamaan yang harus kami catat dibuku catatan pleno akhir nanti.
Tak ada lapangan luas dan datar. Meski begitu kita wajib bersyukur masih ada tempat sempit yang semakin mempersempit jarak diantara kita. Lahan yang bergelombang mewajibkan kita untuk berhati-hati dalam melangkah meskipun kelihatannya sederhana namun percayalah itu mengandung bahaya juga. 

Ya..hanya satu permainan yang bisa kami haturkan, kalau mau tahu, ada banyak sesi yang sudah tercatat rapi dirundown acara (Hastag)SatuHari. Tak apa, toh satu itu saja sudah membuat kami bahagia melihat senyum dan canda kalian yang lepas. Situasi yang mungkin sudah sangat jarang ditemui ketika kita sibuk mengatur jam-jam terlaksananya sebuah acara ataupun agenda lainnya. Senyum yang mulai mahal ketika kita disibukkan oleh urusan yang banyak dicibir orang dari belakang. Tak ada hadiah, karena kehadiran teman-teman yang lain adalah hadiah yang tak mampu kami setarakan dengan benda apapun dimuka bumi ini.
Kita duduk melingkar, melahap sebungkus nasi yang panas. Bukan panas karena api kompor namun panas alam yang tak satupun manusia mampu menciptakannya, bola api langit. Kami percaya bahwa meja makan mampu membuat kondisi lebih nyaman, meskipun tadi hanya beralaskan tikar plastik bekas acara pencerdasan anak-anak bangsa. Bukan enak tidaknya atau mahal tidaknya sesuap nasi yang kita makan, melainkan bagaimana cara kita mensyukuri dan menyetarakan diri masing-masing pribadi dalam satu keluarga ini.
Ketika awan rendah itu datang membawa tabungan air hujan, kalian tahu apa yang kami pikirkan? yang kami pikirkan adalah bagaimana cara kami melindungi semua bagian dari keluarga ini agar tak ada satu tetes air hujan pun yang menyakiti. Namun, Allah berkata lain. Rezeki hujan itu datang membawa kesejukan pada kita. Sempat terpikir sejenak saat semua tangan bergandengan, melingkar dan melepas ganjalan yang terhimpit diperasaan masing-masing, tiba-tiba saja hujan berhenti sendiri. Apakah dia tahu bahwa ketika satu orang merasakan sakit maka yang lainnya juga merasakan hal serupa? Atau karena Allah masih memberikan kesempatan kepada kita agar sejenak saling menikmati kebersamaan ditengah-tengah alam yang sepi namun banyak saksi. Saksi (Hastag)SatuHari ini adalah pucuk-pucuk teh yang bisu, dia akan menjaga rahasia kita sampai para petani mematahkan tulangnya. Kebersamaan (Hastag)SatuHari ini hanya Tuhan, kita dan pucuk teh yang yang tahu.
Kekecewaan pasti mampir pada insan yang tak sempat datang. Sebelum kamu meminta untuk dimengerti maka terlebih dahulu mengertilah orang-orang disekitarmu. Kami mengerti bahwa teman-teman BEM UNS yang tidak sempat mengikuti sedang mencari ilmu dibelahan bumi lainnya. Semoga sosok-sosok yang belum berkesempatan muncul difoto kabinet siang ini juga membawa satu cerita yang sama-sama bahagia dari belahan bumi sana.
12.31 WIB
Haniah

0 komentar:

Posting Komentar