“Berprestasi,
Mengabdi untuk Negeri”
Kenapa
aku ingin membangun KOMADIKSI SMART??
Aku memang bukan Tuhan
yang bisa menjadikan sesuatu yang tak ada menjadi ada. Aku bukan milyader kaya
yang bisa membeli segalanya dengan uang yang ia punya. Aku juga bukan anak
juragan desa yang tinggal merengek minta apa yang aku mau pada ayah dan bunda.
Namun,
Aku
adalah anak manusia yang punya jiwa dan raga untuk membangun kebermanfaat
diatas dunia.
Thomas Alfa Edison bisa
menemukan bola lampu untuk menerangi dunia. Dia tak lantas bisa, namun ada
proses yang bisa menghantarkannya pada pencapaian. Bola lampu memang kecil
namun manfaatnya luar biasa, tanpanya malam seakan membuat orang didunia buta.
Sesuatu
yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Seorang atlet lari juga mengawali
kesuksesannya dengan satu langkah kecil. Kemudian belajar berjalan hingga
tibalah saatnya ia bisa berlari kencang menembus musuh demi kesuksesan sebagai
pemenang.
Dengan KOMADIKSI SMART,
komunitas yang memang sangat kecil didunia ini. Komunitas yang aku yakin
namanya saja belum tentu diingat oleh pemegang jabatan tertinggi di kampusku
ini, akan menjadi langkah awal untuk kesuksesan. Bukan kesuksesan secara
pribadi, namun kesuksesan untuk program bidikmisi kedepan, kesuksesan untuk
almamater dan kesuksesan untuk Ibu Pertiwi.
Aku yakin teman-temanku
bidikmisi adalah manusia-manusia hebat yang punya banyak prestasi. Tak ada
salahnya kita membangun komunikasi lebih untuk menghimpun segala potensi dalam
KOMADIKSI, saling menginspirasi dan saling bahu-membahu untuk berprestasi
mengabdi untuk negeri.
Kenapa
untuk negeri??
Negaralah yang
memberikan kita kesempatan emas mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri.
Satu kursi bisa diperebutkan oleh ribuan orang demi title sarjana maupun diploma. Banyak yang sakit hati, sedih,
kecewa, menunggu dengan setia bertahun-tahun, hingga ada pula yang sampai bunuh
diri karena ditolak masuk perguruan tinggi negeri.
Sudah
berapa banyak kamu ucapkan syukur atas apa yang sudah Negara berikan padamu
wahai anak-anak bidikmisi, apakah hanya sekali ketika melihat rekeningmu telah
terisi??
Salah satu syarat
sebuah daerah dikatakan Negara adalah didalamnya terdapat sekumpulan manusia
yang disebut rakyat. Nah, itulah manusia-manusia yang baik sekali hatinya
menyisihkan penghasilan untuk membiayai hidup kita melalui pajak, kemudian
ditransformasi menjadi beasiswa bidikmisi. Tapi apa ada yang bisa menjamin
bahwa orang yang telah menyisihkan uangnya itu bisa makan setiap hari atau
anaknya bisa sekolah diperguruan tinggi. Bayangkan bila orang tuamu membiayai
anak orang padahal anaknya sendiri tak sekolah dan yang dibiayai hanya bisa
ongkang-ongkang kaki. Jangan bangga menjadi manusia yang masih punya hutang
budi, kecuali hutang budi kepada orang tua, karena sampai kapanpun itu tak akan
bisa kita lunasi. Setidaknya karena kita sudah diberi sesuatu maka kita (secara
tidak langsung) juga harus memberikan sesuatu sebagai timbal balik.
#DARURAT (dari rakyat
untuk rakyat)
Nominal yang ada tak
boleh hanya digunakan sendiri saja. Tangan diatas lebih baik daripada tangan
yang dibawah. Memang sudah sah semua adalah hak mahasiswa penerima beasiswa,
namun apa salahnya berbagi untuk yang lainnya, untuk masyarakat sekitar kita.
Cukup dengan menyisihkan uang sebesar lima puluh ribu sekali dalam 4 tahun bagi
setiap penerima beasiswa bidikmisi maka aku jamin anak-anak bidikmisi bisa
menyumbang 1 bus untuk UNS, menyumbang
untuk para korban bencana alam atau melalui kegiatan-kegiatan sosial kerakyatan
lainnya.
Aku
tak malu bila dikata mahasiswa KURANG MAMPU, tapi aku sangat malu bila diriku
sendiri bersikap TAK MAU TAHU.
Banyak orang yang malu
ketika menyebut dirinya mahasiswa kurang mampu. Apa salahnya, toh itu
kenyataannya begitu. Betapa menyedihkan, sudah tak mampu, tak mau tahu, tak mau
mengaku, sombong pula. Maaf saja kalau tulisanku ini menyinggung beberapa
pihak, jujur tak ada niat sama sekali untuk itu. Tulisan ini murni dari hati,
ungkapan hati dan semoga bisa sampai ke hati. Sikap tak mau tahu atau bahasa
kerennya itu apatis. Apatis secara umum identik dengan sikap golput atau
golongan putih. Namun apatis disini bukan itu, lebih mengarah pada sikap para
mahasiswa bidikmisi untuk setidaknya mau tahu bagaimana kondisi bidikmisi dikampusnya
dan di kampus jiran. Tak hanya ramai-ramai menuntut pencairan jikalau uangnya
tak kunjung datang.
Dengan tulisan ini,
saya Haniah, FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia, 2012, NIM K1212035 mengajak seluruh mahasiswa penerima beasiswa
bidikmisi UNS angkatan 2012 dan 2013 untuk membangun sebuah komunitas dan
membangun kebermanfaatan didalamnya.
Bagi teman-teman yang
sudah menambatkan hatinya di UKM atau ORMAWA dan merasa sudah bisa menyalurkan
kebermanfaatan maupun prestasi demi mengabdi pada negeri, lanjutkan!! Namun
bila ada yang belum seperti saya ini, yuk sama-sama kita bergandengan tangan
membangun KOMADIKSI SMART.
Salam Bidikmisi,
Menggapai asa, memutus mata rantai kemiskinan.










0 komentar:
Posting Komentar