Rabu, 12 Maret 2014

Komunitas Bidikmisi Sebelas Maret (KOMADIKSI SMART)



“Berprestasi, Mengabdi untuk Negeri”

 
Kenapa aku ingin membangun KOMADIKSI SMART??
Aku memang bukan Tuhan yang bisa menjadikan sesuatu yang tak ada menjadi ada. Aku bukan milyader kaya yang bisa membeli segalanya dengan uang yang ia punya. Aku juga bukan anak juragan desa yang tinggal merengek minta apa yang aku mau pada ayah dan bunda. Namun,

Aku adalah anak manusia yang punya jiwa dan raga untuk membangun kebermanfaat diatas dunia.

Thomas Alfa Edison bisa menemukan bola lampu untuk menerangi dunia. Dia tak lantas bisa, namun ada proses yang bisa menghantarkannya pada pencapaian. Bola lampu memang kecil namun manfaatnya luar biasa, tanpanya malam seakan membuat orang didunia buta. 

Sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Seorang atlet lari juga mengawali kesuksesannya dengan satu langkah kecil. Kemudian belajar berjalan hingga tibalah saatnya ia bisa berlari kencang menembus musuh demi kesuksesan sebagai pemenang. 

Dengan KOMADIKSI SMART, komunitas yang memang sangat kecil didunia ini. Komunitas yang aku yakin namanya saja belum tentu diingat oleh pemegang jabatan tertinggi di kampusku ini, akan menjadi langkah awal untuk kesuksesan. Bukan kesuksesan secara pribadi, namun kesuksesan untuk program bidikmisi kedepan, kesuksesan untuk almamater dan kesuksesan untuk Ibu Pertiwi. 

Aku yakin teman-temanku bidikmisi adalah manusia-manusia hebat yang punya banyak prestasi. Tak ada salahnya kita membangun komunikasi lebih untuk menghimpun segala potensi dalam KOMADIKSI, saling menginspirasi dan saling bahu-membahu untuk berprestasi mengabdi untuk negeri.


Kenapa untuk negeri??
Negaralah yang memberikan kita kesempatan emas mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. Satu kursi bisa diperebutkan oleh ribuan orang demi title sarjana maupun diploma. Banyak yang sakit hati, sedih, kecewa, menunggu dengan setia bertahun-tahun, hingga ada pula yang sampai bunuh diri karena ditolak masuk perguruan tinggi negeri.

Sudah berapa banyak kamu ucapkan syukur atas apa yang sudah Negara berikan padamu wahai anak-anak bidikmisi, apakah hanya sekali ketika melihat rekeningmu telah terisi??

Salah satu syarat sebuah daerah dikatakan Negara adalah didalamnya terdapat sekumpulan manusia yang disebut rakyat. Nah, itulah manusia-manusia yang baik sekali hatinya menyisihkan penghasilan untuk membiayai hidup kita melalui pajak, kemudian ditransformasi menjadi beasiswa bidikmisi. Tapi apa ada yang bisa menjamin bahwa orang yang telah menyisihkan uangnya itu bisa makan setiap hari atau anaknya bisa sekolah diperguruan tinggi. Bayangkan bila orang tuamu membiayai anak orang padahal anaknya sendiri tak sekolah dan yang dibiayai hanya bisa ongkang-ongkang kaki. Jangan bangga menjadi manusia yang masih punya hutang budi, kecuali hutang budi kepada orang tua, karena sampai kapanpun itu tak akan bisa kita lunasi. Setidaknya karena kita sudah diberi sesuatu maka kita (secara tidak langsung) juga harus memberikan sesuatu sebagai timbal balik. 

#DARURAT (dari rakyat untuk rakyat)
Nominal yang ada tak boleh hanya digunakan sendiri saja. Tangan diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Memang sudah sah semua adalah hak mahasiswa penerima beasiswa, namun apa salahnya berbagi untuk yang lainnya, untuk masyarakat sekitar kita. Cukup dengan menyisihkan uang sebesar lima puluh ribu sekali dalam 4 tahun bagi setiap penerima beasiswa bidikmisi maka aku jamin anak-anak bidikmisi bisa menyumbang 1 bus untuk UNS,  menyumbang untuk para korban bencana alam atau melalui kegiatan-kegiatan sosial kerakyatan lainnya. 

Aku tak malu bila dikata mahasiswa KURANG MAMPU, tapi aku sangat malu bila diriku sendiri bersikap TAK MAU TAHU.

Banyak orang yang malu ketika menyebut dirinya mahasiswa kurang mampu. Apa salahnya, toh itu kenyataannya begitu. Betapa menyedihkan, sudah tak mampu, tak mau tahu, tak mau mengaku, sombong pula. Maaf saja kalau tulisanku ini menyinggung beberapa pihak, jujur tak ada niat sama sekali untuk itu. Tulisan ini murni dari hati, ungkapan hati dan semoga bisa sampai ke hati. Sikap tak mau tahu atau bahasa kerennya itu apatis. Apatis secara umum identik dengan sikap golput atau golongan putih. Namun apatis disini bukan itu, lebih mengarah pada sikap para mahasiswa bidikmisi untuk setidaknya mau tahu bagaimana kondisi bidikmisi dikampusnya dan di kampus jiran. Tak hanya ramai-ramai menuntut pencairan jikalau uangnya tak kunjung datang.


Dengan tulisan ini, saya Haniah, FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia, 2012, NIM K1212035  mengajak seluruh mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi UNS angkatan 2012 dan 2013 untuk membangun sebuah komunitas dan membangun kebermanfaatan didalamnya. 

Bagi teman-teman yang sudah menambatkan hatinya di UKM atau ORMAWA dan merasa sudah bisa menyalurkan kebermanfaatan maupun prestasi demi mengabdi pada negeri, lanjutkan!! Namun bila ada yang belum seperti saya ini, yuk sama-sama kita bergandengan tangan membangun KOMADIKSI SMART. 

Salam Bidikmisi,  
Menggapai asa, memutus mata rantai kemiskinan.

0 komentar:

Posting Komentar