Minggu, 31 Juli 2016

Mengabadikan Persahabatan

Maafkan aku yang selalu tak mampu mengungkapkan rasa melalui lisan. Aku terbiasa menyampaikan apapun yang berbau perasaan melalui sebuah tulisan. Seperti teman-temanku yang lain. Orang-orang penting dalam hidupku selalu menjadi objek dari tulisan-tulisan “mellow” ku. Ini bawaan lahir. Seorang Haniah tercipta untuk memiliki perasaan yang sedikit  sensitif. Aku menikmatinya karena dengan begitu banyak hal yang bisa aku cerna filosofinya. 

   Tulisan ini aku persembahkan untuk salah satu sahabat terbaik, Prissilia. Salah seorang penting yang sebenarnya sudah memesan tulisan tentang dirinya jauh-jauh hari. Bukannya tak mau, ciri khasku adalah mencari momentum agar tulisan dan surat-suratku bernyawa. Agar orang yang membacanya tak sekadar baca kemudian lupa. Tulisan itu mengingatkan karena dia bernilai abadi dan harus nancep di hati.
   Sebelumnya, aku ucapkan selamat atas ujian skripsi yang kamu tempuh kemarin. Mendebarkan bukan? Hasil kerja kerasmu di bantai empat penguji. Tak apa, itu adalah satu pencapaian yang memang harus kita lewati. Saat ini aku yakin kamu sedang pusing memikirkan revisi. Istirahatlah sejenak, kesehatan tak boleh dinomorduakan. Aku ingat beberapa penyakit pernah menghantarkanmu di rumah sakit untuk opname. Jangan sampai itu terjadi lagi. Kesehatan adalah barang mahal. Nikmat Tuhan yang lebih sering dilalaikan.
Sil,
Selepas ujian perasaan memang menjadi lenggang. Ada sepetak lahan longgar yang bebannya sudah hilang. Ada haru yang menyita di kala teman-teman menyodorkan rangkaian bunga. Ada tawa geli memegang boneka beruang memakai toga. Ada perasaan puas ketika kita mengunci ruang ujian pasca “pecah telur” mendera. Begitulah, ujian skripsi selalu menjadi huru-hara yang mengiysahkan kisah tak terlupa. Aku pun begitu untuk beberapa waktu yang lalu.
Sil,
Tahukah kamu? Selepas ini akan ada perasaan berat yang melanda. Bahagia itu hanya akan bertahan sehari saja. Selepasnya, kamu bisa merasakan sendiri bagaimana getirnya. Ke depan akan banyak keruwetan yang menghadang. Mulai dari revisi yang berulang-ulang (semoga kamu tidak), berburu tanda tangan, mengurus berkas wisuda yang banyaknya seperti mau nikah ke KUA, dan semua hal yang pasti melelahkan. Kegetiran yang aku bilang tadi namanya kehilangan. Iya, kamu akan banyak merasakan yang namanya kehilangan. Kehilangan waktu bertatap muka dengan teman, dosen yang killer hingga yang idaman, waktu nonkrong bareng anak kosan, jam kuliah, hingga kehilangan moment bingung cari tempat makan. Semua itu sederhana, namun hilangnya menyisakan tanda tanya yang tak pernah memiliki jawab. Beruntunglah bila kamu masih memiliki kesempatan untuk lanjut S2, bebarapa hal bisa kamu ulangi seperti sebelumnya. Agaknya kehilangan yang akan kamu rasakan porsinya lebih kecil dari apa yang orang lain rasakan (karena tidak memilih jalur S2).
Sil,
Beberapa waktu aku sibuk memikirkan hadiah apa yang pantas untuk aku berikan. Dan pilihanku jatuh pada sebuah buku karangan Pidi Baiq yang menurutku isinya sangat pas untuk menemani waktu-waktu lelahmu. Tenang saja, itu bukan novel misteri atau novel cinta masa kini. Pidi Baiq merancang novel itu dengan bumbu komedi, sehingga senyum dan tawa akan selalu menghiasi hari-harimu. Kamu akan lupa pada rasa sakit yang sudah aku ceritakan di awal tadi. Dengan begitu, tanggung jawabku sebagai seorang teman untuk senantiasa memberi kebahagiaan akan lunas terbayar.
Sil,
Selama hampir empat tahun kita berkawan, waktu dan uang adalah sesuatu yang paling sulit aku berikan. Bukan apa-apa, dua hal itu memang mahal. Di tengah rutinitasku yang sedikit berbeda itu kamu tetap sabar. Tak jarang kamulah pengingat dari tugas-tugas dosen hingga tanggal ujian. Aku selalu tertawa bila mengingat keluhmu ketika kita sedang berjalan dan banyak orang yang aku temui. Kamu selalu ngambek  dan bertanya kenapa hanya aku yang banyak di sapa. Saat itu aku benar-benar bisa tertawa lepas. Aku gagal paham dengan apa yang kamu lakukan. Hingga suatu saat ketika beberapa orang lewat dan menyapamu tapi tak menyapaku,  kamu bisa sedikit menyombongkan diri. Berlagak balas dendam atas apa yang sudah aku lakukan.
   Seingatku, kamu adalah orang yang siap mencarikan tempat duduk untukku. Ya, semasa kuliah dulu telat adalah sesuatu yang sangat biasa bagiku. Sejujurnya aku sangat benci menunggu. Rasa-rasanya aku bisa mati bosan karena itu. Ketika kita duduk berdampingan dengan setia kamu mendengarkan keluh kesahku. Disaat orang lain ada yang menjahatiku dan membuatku sedih, kamu siap mengembalikan mood-ku dengan mengajakku beli mi dog-dog depan kampus. Ketika perasaanku kacau, kamu paham bahwa sebentar lagi kita akan dapat tamu bulanan. Sedetail itu kita saling kenal.
   Membicarakan soal keuangan, aku suka sesuatu yang sederhana. Melihat keturunanmu yang termasuk orang berada tapi tetap biasa saja, cukup bagiku untuk percaya bahwa seorang Prissil tak mengandalkan harta orang tua. Masih ingatkah kamu ketika kita berjalan mengelilingi kampus kentingan hanya untuk belajar usaha? Menjual dua box donat dengan laba 300 rupiah saja. Kamu yang paham dengan keuanganku (yang lebih sering seret) mengajariku cara mencatat uang bulanan. Entah kenapa kamu ahli sekali dalam bidang itu. Uang seratus perak hilang saja kau pasti tahu, sedangkan aku? Jangan tanya. Aku selalu gagal mencatat tiap detail pengeluaranku. 
   Kita lebih sering makan di tempat makan murahan daripada restoran kekinian. Aku suka itu. Sesuatu yang sederhana bagiku lebih tak terhitung nilainya. Masih ingatkah ketika kita sama-sama tak memiliki sepeda motor? Yap, jalan kaki adalah aktivitas yang menyenangkan. Sesekali kita ingin merasakan naik bus kampus warna kuning. Aku ingat betul, di depan masjid NH kita menunggu bus hingga tiga jam lamanya. Sudah kubilang, menunggu itu lebih banyak memberikan kesia-siaan. Pada akhirnya kita gagal dan mendapatkan rezeki bisa naik bus kampus beberapa hari setelahnya. Modal beberapa ribu saja cukup membuat kita bahagia mengelilingi kampus kentingan tercinta. Bukankah benar adanya bahwa  bahagia itu sederhana?
Sil,
Aku senang kamu sudah melunasi janji sarjanamu. Aku memang mendahuluimu karena kewajibanku yang harus lulus tepat waktu. Ada sedikit penyesalan. Ekspektasi yang aku bayangkan tak sesuai dengan kenyataan. Wisuda kita dirancang Tuhan berjarak tiga bulan. Biarlah yang penting di moment bahagiamu aku bisa menyempatkan datang.  
Sil,
Kamu harus bahagia. Mungkin ke depan kita akan sedikit sulit bertatap muka. Aku yang memutuskan kerja dan kamu yang kembali berjuang kuliah di S2. Keputusan ini pasti yang terbaik bukan? Aku selalu percaya itu. Jika jarak memang tak bisa mengalah pada kita, cukuplah waktu yang akan membantu kita saling menjaga. Jangan lupa berkabar bila ada apa-apa. Meski waktu itu sempit, percayalah kesempatan emas tak pernah berbohong terhadap orang yang memiliki tekad. 
Wisuda sarjana 4 Juni 2016
   Selamat berjuang, kawan. Secuil surat ini adalah caraku mengabadikan sebuah persahabatan. Kelak ketika kita sudah berumah tangga, tanpa bertemu pun kita bisa saling meluapkan rindu dengan tulisan-tulisan yang ada. Titip salam untuk ibunda tercinta ya..

2 komentar:

  1. Ah, begitulah sahabat. Harta paling berharga yang kita dapat. Semoga tak sekedar dunia namun hingg kelak di akhirat ♡

    BalasHapus