Minggu, 19 Juni 2016

LELAKI YANG TERSAKITI DAN PEREMPUAN YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR PERGI

          Detak jam dinding semakin keras terdengar. Malam yang kian pekat menambah kesunyian alam di luar. Ada bunyi tokek tetangga yang suaranya sampai di kamarku. Iya, aku masih terjaga tengah malam. Pikiranku belum mau diistirahatkan. Kepalaku masih penuh sesak dengan rutinitas hari ini, ditambah lagi tentang kamu.  Ramuan itu pas membuat kumat gangguan susah tidurku.  Beberapa hari terakhir pikiranku kembali tak karuan. Mengikuti kenangan yang sudah kutenggelamkan dengan paksa. Kenangan kita dari empat tahun silam dan saat ini mencuat ke permukaan. Mulai dari pertama kali tangan kita tak sengaja bersentuhan, hingga pesan pamit yang aku kirimkan dengan jahatnya padamu. Oiya, seingatku kita memang tak pernah berkenalan secara resmi. Tiba-tiba saja kau tahu namaku dan aku tahu namamu.
          Kumpulan peristiwa yang sudah susah payah kubunuh agaknya hidup dan bersemi kembali. Entah, haruskah aku pupuk atau aku semprot menggunakan pestisida? Peristiwa-peristiwa itu seolah mulai menjulur dari akar rambut ke bahu. Menampilkan tentang kita. Kau yang pernah terluka karena aku dan aku yang sesungguhnya tak pernah benar-benar meninggalkanmu.
        Entah sejak kapan kita menyadari bahwa diantara kau dan aku ada sesuatu yang berbeda. Kau mulai berubah dari kau yang biasanya. Kau yang menurutku mulai mengikuti apa yang aku lakukan setiap hari. Kau yang mulai menggeluti hobi yang sejak dahulu aku nikmati. Kau yang mulai membuatku sadar bahwa saat itu aku memiliki tempat khusus di hatimu.
         Bisa terlukis betapa waktu itu adalah masa-masa indah kita berdua. Iya, hanya berdua. Selebihnya adalah pendukung yang semakin membuat kita akrab dan dekat. Sepertinya kita harus memberikan banyak terima kasih pada waktu itu. Iya, waktu itu. Sebelum kebodohanku muncul. Kebodohan yang entah datangnya dari mana dan membuat kisah kita berakhir demikian tragisnya. Tak ada sapa, tak ada temu muka, yang ada hanyalah doa-doa yang terkirim lewat semesta. 
your heart is break
         Aku tak pernah menggubrismu lagi. Aku tak pernah memberikan waktu bicara untukmu. Aku memutus apapun yang berhubungan denganmu. Iya, itu aku yang lakukan. Semuanya. Entah atas dasar apa yang jelas mengakui bahwa aku juga merasakan hal yang sama adalah rasa sakit yang bermata dua. Aku belum memiliki kuasa atas perasaanku sendiri. Seketika kau hilang. Enyah dari hadapanku untuk waktu yang sangat lama. Tak pernah ada kabar masuk ke telinga. Tak pernah ada sosok dirimu dalam retina. Mungkin ini caramu membalas perbuatanku. Kata pamitku juga terlalu sakit untuk diriku sendiri. Hatimu, mungkin lebih berlipat-lipat perih dari ini.
         Suatu ketika kita diizinkan bertemu kembali. Ada sesuatu yang awalnya hilang dan sekarang dapat aku lihat lagi. Tatapan itu. Tatapan khas yang menurutku hanya bisa memancar dari kedua bola matamu saja (meski aku tak pernah bisa lama melihatnya). Mataku akan segera mencari arah tandingan agar tubuhku tak berekspresi berlebihan. Iya, aku masih menemukan getaran yang sama seperti sedia kala. Ya, sesungguhnya aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu. Asal kau tahu. Sekarang, masihkah ada harapan untuk lukamu sembuh dan tempatku kembali di hatimu? Mungkin sudah saatnya aku menebus semua kesalahanku dulu. Maafkan aku.   

0 komentar:

Posting Komentar