Detak jam dinding
semakin keras terdengar. Malam yang kian pekat menambah kesunyian alam di luar.
Ada bunyi tokek tetangga yang suaranya sampai di kamarku. Iya, aku masih
terjaga tengah malam. Pikiranku belum mau diistirahatkan. Kepalaku masih penuh
sesak dengan rutinitas hari ini, ditambah lagi tentang kamu. Ramuan itu pas membuat kumat gangguan susah
tidurku. Beberapa hari terakhir
pikiranku kembali tak karuan. Mengikuti kenangan yang sudah kutenggelamkan dengan
paksa. Kenangan kita dari empat tahun silam dan saat ini mencuat ke permukaan.
Mulai dari pertama kali tangan kita tak sengaja bersentuhan, hingga pesan pamit
yang aku kirimkan dengan jahatnya padamu. Oiya, seingatku kita memang tak
pernah berkenalan secara resmi. Tiba-tiba saja kau tahu namaku dan aku tahu
namamu.
Kumpulan peristiwa yang
sudah susah payah kubunuh agaknya hidup dan bersemi kembali. Entah, haruskah
aku pupuk atau aku semprot menggunakan pestisida? Peristiwa-peristiwa itu
seolah mulai menjulur dari akar rambut ke bahu. Menampilkan tentang kita. Kau
yang pernah terluka karena aku dan aku yang sesungguhnya tak pernah benar-benar
meninggalkanmu.
Entah sejak kapan kita menyadari
bahwa diantara kau dan aku ada sesuatu yang berbeda. Kau mulai berubah dari kau
yang biasanya. Kau yang menurutku mulai mengikuti apa yang aku lakukan setiap
hari. Kau yang mulai menggeluti hobi yang sejak dahulu aku nikmati. Kau yang
mulai membuatku sadar bahwa saat itu aku memiliki tempat khusus di hatimu.
Bisa terlukis betapa
waktu itu adalah masa-masa indah kita berdua. Iya, hanya berdua. Selebihnya
adalah pendukung yang semakin membuat kita akrab dan dekat. Sepertinya kita
harus memberikan banyak terima kasih pada waktu itu. Iya, waktu itu. Sebelum
kebodohanku muncul. Kebodohan yang entah datangnya dari mana dan membuat kisah
kita berakhir demikian tragisnya. Tak ada sapa, tak ada temu muka, yang ada
hanyalah doa-doa yang terkirim lewat semesta.
![]() |
| your heart is break |
Aku tak pernah
menggubrismu lagi. Aku tak pernah memberikan waktu bicara untukmu. Aku memutus
apapun yang berhubungan denganmu. Iya, itu aku yang lakukan. Semuanya. Entah
atas dasar apa yang jelas mengakui bahwa aku juga merasakan hal yang sama
adalah rasa sakit yang bermata dua. Aku belum memiliki kuasa atas perasaanku
sendiri. Seketika kau hilang. Enyah dari hadapanku untuk waktu yang sangat
lama. Tak pernah ada kabar masuk ke telinga. Tak pernah ada sosok dirimu dalam
retina. Mungkin ini caramu membalas perbuatanku. Kata pamitku juga terlalu
sakit untuk diriku sendiri. Hatimu, mungkin lebih berlipat-lipat perih dari
ini.
Suatu ketika kita
diizinkan bertemu kembali. Ada sesuatu yang awalnya hilang dan sekarang dapat
aku lihat lagi. Tatapan itu. Tatapan khas yang menurutku hanya bisa memancar
dari kedua bola matamu saja (meski aku tak pernah bisa lama melihatnya). Mataku
akan segera mencari arah tandingan agar tubuhku tak berekspresi berlebihan.
Iya, aku masih menemukan getaran yang sama seperti sedia kala. Ya, sesungguhnya
aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu. Asal kau tahu. Sekarang, masihkah
ada harapan untuk lukamu sembuh dan tempatku kembali di hatimu? Mungkin sudah
saatnya aku menebus semua kesalahanku dulu. Maafkan aku.








0 komentar:
Posting Komentar