Maafkan aku yang selalu
tak mampu mengungkapkan rasa melalui lisan. Aku terbiasa menyampaikan apapun
yang berbau perasaan melalui sebuah tulisan. Seperti teman-temanku yang lain. Orang-orang
penting dalam hidupku selalu menjadi objek dari tulisan-tulisan “mellow” ku.
Ini bawaan lahir. Seorang Haniah tercipta untuk memiliki perasaan yang sedikit sensitif. Aku menikmatinya karena dengan
begitu banyak hal yang bisa aku cerna filosofinya.
Tulisan ini aku
persembahkan untuk salah satu sahabat terbaik, Prissilia. Salah seorang penting
yang sebenarnya sudah memesan tulisan tentang dirinya jauh-jauh hari. Bukannya
tak mau, ciri khasku adalah mencari momentum agar tulisan dan surat-suratku
bernyawa. Agar orang yang membacanya tak sekadar baca kemudian lupa. Tulisan itu
mengingatkan karena dia bernilai abadi dan harus nancep di hati.
Sebelumnya, aku ucapkan
selamat atas ujian skripsi yang kamu tempuh kemarin. Mendebarkan bukan? Hasil
kerja kerasmu di bantai empat penguji. Tak apa, itu adalah satu pencapaian yang
memang harus kita lewati. Saat ini aku yakin kamu sedang pusing memikirkan
revisi. Istirahatlah sejenak, kesehatan tak boleh dinomorduakan. Aku ingat
beberapa penyakit pernah menghantarkanmu di rumah sakit untuk opname. Jangan sampai itu terjadi lagi. Kesehatan
adalah barang mahal. Nikmat Tuhan yang lebih sering dilalaikan.
Sil,
Selepas ujian perasaan
memang menjadi lenggang. Ada sepetak lahan longgar yang bebannya sudah hilang. Ada
haru yang menyita di kala teman-teman menyodorkan rangkaian bunga. Ada tawa
geli memegang boneka beruang memakai toga. Ada perasaan puas ketika kita
mengunci ruang ujian pasca “pecah telur” mendera. Begitulah, ujian skripsi
selalu menjadi huru-hara yang mengiysahkan kisah tak terlupa. Aku pun begitu
untuk beberapa waktu yang lalu.
Sil,
Tahukah kamu? Selepas ini
akan ada perasaan berat yang melanda. Bahagia itu hanya akan bertahan sehari
saja. Selepasnya, kamu bisa merasakan sendiri bagaimana getirnya. Ke depan akan
banyak keruwetan yang menghadang. Mulai dari revisi yang berulang-ulang (semoga
kamu tidak), berburu tanda tangan, mengurus berkas wisuda yang banyaknya seperti
mau nikah ke KUA, dan semua hal yang pasti melelahkan. Kegetiran yang aku
bilang tadi namanya kehilangan. Iya, kamu akan banyak merasakan yang namanya
kehilangan. Kehilangan waktu bertatap muka dengan teman, dosen yang killer hingga yang idaman, waktu
nonkrong bareng anak kosan, jam kuliah, hingga kehilangan moment bingung cari tempat makan. Semua itu sederhana, namun
hilangnya menyisakan tanda tanya yang tak pernah memiliki jawab. Beruntunglah
bila kamu masih memiliki kesempatan untuk lanjut S2, bebarapa hal bisa kamu
ulangi seperti sebelumnya. Agaknya kehilangan yang akan kamu rasakan porsinya
lebih kecil dari apa yang orang lain rasakan (karena tidak memilih jalur S2).
Sil,
Beberapa waktu aku
sibuk memikirkan hadiah apa yang pantas untuk aku berikan. Dan pilihanku jatuh
pada sebuah buku karangan Pidi Baiq yang menurutku isinya sangat pas untuk
menemani waktu-waktu lelahmu. Tenang saja, itu bukan novel misteri atau novel
cinta masa kini. Pidi Baiq merancang novel itu dengan bumbu komedi, sehingga
senyum dan tawa akan selalu menghiasi hari-harimu. Kamu akan lupa pada rasa
sakit yang sudah aku ceritakan di awal tadi. Dengan begitu, tanggung jawabku
sebagai seorang teman untuk senantiasa memberi kebahagiaan akan lunas terbayar.
Sil,
Selama hampir empat
tahun kita berkawan, waktu dan uang adalah sesuatu yang paling sulit aku
berikan. Bukan apa-apa, dua hal itu memang mahal. Di tengah rutinitasku yang
sedikit berbeda itu kamu tetap sabar. Tak jarang kamulah pengingat dari
tugas-tugas dosen hingga tanggal ujian. Aku selalu tertawa bila mengingat
keluhmu ketika kita sedang berjalan dan banyak orang yang aku temui. Kamu selalu
ngambek dan bertanya kenapa hanya aku
yang banyak di sapa. Saat itu aku benar-benar bisa tertawa lepas. Aku gagal
paham dengan apa yang kamu lakukan. Hingga suatu saat ketika beberapa orang lewat
dan menyapamu tapi tak menyapaku, kamu
bisa sedikit menyombongkan diri. Berlagak balas dendam atas apa yang sudah aku
lakukan.
Seingatku, kamu adalah
orang yang siap mencarikan tempat duduk untukku. Ya, semasa kuliah dulu telat
adalah sesuatu yang sangat biasa bagiku. Sejujurnya aku sangat benci menunggu. Rasa-rasanya
aku bisa mati bosan karena itu. Ketika kita duduk berdampingan dengan setia
kamu mendengarkan keluh kesahku. Disaat orang lain ada yang menjahatiku dan
membuatku sedih, kamu siap mengembalikan mood-ku
dengan mengajakku beli mi dog-dog depan kampus. Ketika perasaanku kacau, kamu
paham bahwa sebentar lagi kita akan dapat tamu bulanan. Sedetail itu kita
saling kenal.
Membicarakan soal
keuangan, aku suka sesuatu yang sederhana. Melihat keturunanmu yang termasuk
orang berada tapi tetap biasa saja, cukup bagiku untuk percaya bahwa seorang
Prissil tak mengandalkan harta orang tua. Masih ingatkah kamu ketika kita berjalan
mengelilingi kampus kentingan hanya untuk belajar usaha? Menjual dua box donat dengan laba 300 rupiah saja.
Kamu yang paham dengan keuanganku (yang lebih sering seret) mengajariku cara
mencatat uang bulanan. Entah kenapa kamu ahli sekali dalam bidang itu. Uang seratus
perak hilang saja kau pasti tahu, sedangkan aku? Jangan tanya. Aku selalu gagal
mencatat tiap detail pengeluaranku.
Kita lebih sering makan di tempat makan murahan daripada restoran kekinian. Aku suka itu. Sesuatu yang sederhana bagiku lebih tak terhitung nilainya. Masih ingatkah ketika kita sama-sama tak memiliki sepeda motor? Yap, jalan kaki adalah aktivitas yang menyenangkan. Sesekali kita ingin merasakan naik bus kampus warna kuning. Aku ingat betul, di depan masjid NH kita menunggu bus hingga tiga jam lamanya. Sudah kubilang, menunggu itu lebih banyak memberikan kesia-siaan. Pada akhirnya kita gagal dan mendapatkan rezeki bisa naik bus kampus beberapa hari setelahnya. Modal beberapa ribu saja cukup membuat kita bahagia mengelilingi kampus kentingan tercinta. Bukankah benar adanya bahwa bahagia itu sederhana?
Kita lebih sering makan di tempat makan murahan daripada restoran kekinian. Aku suka itu. Sesuatu yang sederhana bagiku lebih tak terhitung nilainya. Masih ingatkah ketika kita sama-sama tak memiliki sepeda motor? Yap, jalan kaki adalah aktivitas yang menyenangkan. Sesekali kita ingin merasakan naik bus kampus warna kuning. Aku ingat betul, di depan masjid NH kita menunggu bus hingga tiga jam lamanya. Sudah kubilang, menunggu itu lebih banyak memberikan kesia-siaan. Pada akhirnya kita gagal dan mendapatkan rezeki bisa naik bus kampus beberapa hari setelahnya. Modal beberapa ribu saja cukup membuat kita bahagia mengelilingi kampus kentingan tercinta. Bukankah benar adanya bahwa bahagia itu sederhana?
Sil,
Aku senang kamu sudah
melunasi janji sarjanamu. Aku memang mendahuluimu karena kewajibanku yang harus
lulus tepat waktu. Ada sedikit penyesalan. Ekspektasi yang aku bayangkan tak
sesuai dengan kenyataan. Wisuda kita dirancang Tuhan berjarak tiga bulan. Biarlah
yang penting di moment bahagiamu aku
bisa menyempatkan datang.
Sil,
Kamu harus bahagia. Mungkin
ke depan kita akan sedikit sulit bertatap muka. Aku yang memutuskan kerja dan
kamu yang kembali berjuang kuliah di S2. Keputusan ini pasti yang terbaik
bukan? Aku selalu percaya itu. Jika jarak memang tak bisa mengalah pada kita,
cukuplah waktu yang akan membantu kita saling menjaga. Jangan lupa berkabar
bila ada apa-apa. Meski waktu itu sempit, percayalah kesempatan emas tak pernah
berbohong terhadap orang yang memiliki tekad.
![]() |
| Wisuda sarjana 4 Juni 2016 |
Selamat berjuang,
kawan. Secuil surat ini adalah caraku mengabadikan sebuah persahabatan. Kelak ketika
kita sudah berumah tangga, tanpa bertemu pun kita bisa saling meluapkan rindu
dengan tulisan-tulisan yang ada. Titip salam untuk ibunda tercinta ya..








Ah, begitulah sahabat. Harta paling berharga yang kita dapat. Semoga tak sekedar dunia namun hingg kelak di akhirat ♡
BalasHapussetuju.. :)
Hapus