Beberapa bulan lalu aku adalah pemenang. Pemenang atas perasaanku sendiri. Tak lagi menangis mengingat detik-detik yang indah buatku namun entah menurutmu. Aku berhasil meredam sedu sedan gejolak perasaan. Sayangnya itu tak lama. Perjumpaan yang sebentar saja membuat perjuanganku sia-sia. Bentengku runtuh sekita. Tak lagi kokoh seperti sebelumnya ketika kau dan aku tak memiliki waktu untuk bertatap muka.
Aku, perempuan yang pernah berada di sampingmu untuk beberapa waktu. Aku, perempuan yang ketika berhadapan denganmu nyaliku ciut seperti kutu. Aku, perempuan yang sampai detik ini mencoba menjadi pejuang untuk melupakanmu dan mengikhlaskanmu untuk orang lain. Aku, perempuan yang pernah menjadikanmu alasan untuk menyakiti beberapa orang yang lain.
Aku perempuan bodoh. Gelar sarjana yang kumiliki sekarang tak berarti apa-apa. Aku pun tak pernah memiliki keberanian untuk satu langkah lebih berani berbicara serius denganmu. Bercanda pun aku masih berusaha sekuat tenaga untuk biasa saja. Begitulah aku. Aku tak pernah berani memberi tanda. Aku memilih diam saja. Membiarkanmu dibidik perempuan lain. Membiarkanmu bermain-main dengan cinta orang lain. Membiarkanmu berbagi senyum dengan mereka itu. Asal kamu tahu, aku adalah orang yang hanya akan diam ketika mengagumi seseorang. Bercanda dengan teman lelaki lain aku bisa, denganmu? Maaf aku tak sanggup.
Kamu adalah alasanku untuk tidak membuka hati bagi orang lain. Adalah alasan mengapa harus jadi perempuan tangguh. Adalah alasan untuk selalu belajar tentang banyak hal. Adalah alasan atas usahaku agar menjadi perempuan dan mantu idaman. Entah takdir berkata bagaimana yang jelas aku sedang berusaha. Berusaha melepas kamu untuk orang lain yang lebih baik. Mengumpulkan tenaga untuk meredam luka nantinya. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita. Doakan aku agar bisa melepaskanmu secepatnya.







0 komentar:
Posting Komentar