“Orang-orang yang memiliki mimpi adalah orang-orang yang mampu bertahan hidup sepuluh kali lipat dibanding orang-orang yang takut merancang mimpinya sendiri.”
![]() |
| I Have Dreams |
Naik
pangkat ke SMP, cerita anak dan cerita pendek mulai saya produksi. Berawal dari
gambar kelinci lucu di kaos adik saya, cerita berjudul “Pinci dan Linci” saya
nobatkan sebagai cerita sulung (pertama kali lahir) yang cukup panjang saya
tuliskan. Saya yang mulai mengenal pula tentang dunia cinta-cintaan akhirnya
mendayung kapal kearah yang sedikit berombak. Saya mulai beralih ke cerpen
teenlit dengan segala dinamika anak SMP. Beberapa cerita pendek beraliran
teenlit itu mulai muncul dari kepolosan saya tentang pacaran, cinta, dan laki-laki
idaman. Entah berapa judul yang berhasil saya produksi waktu itu, jelasnya
teman-teman sekelas adalah pembaca paling budiman yang selalu siap menagih
jalan cerita lanjutan dan memberi masukan. Baper rasanya mengenang masa–masa
itu. Memiliki sekolah menangah yang hanya di lingkup kecamatan membuat saya tak
pernah berani mengirimkan cerita-cerita teenlit itu ke media. Padahal waktu
itu, majalah MOP adalah majalah remaja pertama yang saya impi-impikan menjadi
media pertama yang akan menampung cerita saya untuk pertama kalinya.
![]() |
| Majalah MOP |
Tuhan
memang Maha Mendengar. Merasa terpencil hidup di lingkup kecamatan, orang tua
mengirimkan saya ke sebuah sekolah di pinggiran kota Solo. Di sekolah tersebut
akses kirim-mengirim tulisan lebih lancar dibanding sekolah saya sebelumnya. Saya
juga sudah memiliki sedikit keberanian untuk mengizinkan tulisan saya dinikmati
banyak orang. Saya mulai melirik kolom opini siswa di koran Solopos dan rubrik
cerpen di beberapa majalah yang beredar di lingkungan hidup saya waktu itu.
Hidup di asrama yang memiliki cita rasa semi-semi pondok membuat aliran cerpen
saya mengarah pada cerpen-cerpen nuansa islami. Awalnya membangun karakter
teenlit dengan rok mini berubah menjadi karakter anak pondok islami ber-rok
sampai mata kaki.
Pada
sesi perubahan aliran ini saya mengerti bahwa jalan hidup ternyata sangat
berpengaruh pada tulisan seseorang. Masa putih abu-abu yang akses literasi
mulai terbuka lebar membuat saya keranjingan membaca novel. Merasa tertantang
dengan dunia pernovelan, saya memberanikan diri untuk menulis novel. Sampai sekarang
masih tersimpan bakal novel saya yang tidak selesai-selesai di rak buku kamar. Sejak
saat itu, mimpi memiliki novel karya sendiri terus saja terngiang-ngiang di
kepala hingga akhirnya dunia menulis saya seperti mati sia-sia (untuk beberapa
waktu).
Letak
kantor pos yang mudah dijangkau akhirnya memberikan peluang pada cerpen-cerpen
saya untuk nonkrong di beberapa rubrik cerpen islami. Dari rubrik-rubrik itu
uang mengalir ke kantong sebagai uang jajan pribadi. Saya masih ingat sekali,
cerpen saya yang paling berkesan dan berhasil dimuat adalah cerita tentang saya
sendiri yang sering telat mendapat nomor tes karena selalu nunggak uang SPP. Nyeseknya masih terasa sampai detik di mana
tulisan ini saya ketik. Cerita-cerita yang saya tulis sebenarnya adalah hasil
curhatan dan perjalanan hidup yang saya lewati.
| Honor Pertama |
Selepas
SMA, masa-masa kuliah datang. Saya sempat menerbitkan sebuah buku yang saya garap bersama teman-teman penulis (hasil
kenalan di grup Facebook). Berhubung mencari kursi PTN waktu itu adalah harga
mahal dan sulit saya dapatkan, akhirnya saya berinisiatif mengajak teman-teman
untuk berbagi cerita dan menuangkannya dalam sebuah buku untuk memotivasi
anak-anak SMA yang gagal di perjuangan berburu PTN. Buku itu bercerita tentang
perjalanan saya dan teman-teman lain untuk mendapatkan satu kursi di perguruan
tinggi. Terbit secara indie menjadi
penghalang buku itu beredar luas di pasaran. Jangankan di toko buku, cara
pemesanan saja sampai sekarang masih acak kadut. Penerbit seolah tiba-tiba
hilang. Entah bagaimana nasib buku saya (dan kawan-kawan) sekarang. Seperti genangan
air hujan yang bertemu sinar matahari, sekejap hilang entah dimana rimbanya. Pada
sesi ini saya belajar banyak mengenai dunia penerbitan buku dan pemasaran karya.
Beberapa teman dan kenalan kampus sempat mengajak saya berdiskusi tentang
penerbitan karya mereka di penerbit indie atau penerbit mayor.
Menelurkan
satu buah karya ternyata bukan menjadi obor pemicu semangat saya untuk lebih
giat lagi menulis. Saya salah, setelah buku sulung itu lahir, saya mati. Bangku
kuliah ternyata menyilaukan. Banyak dunia yang ingin saya jamah dan ingin saya
cicipi saat itu. Pada akhirnya, menulis adalah kegiatan yang saya nomor
sekiankan. Ujung-ujungnya saya seperti kehilangan nyawa saya sendiri. Ya, saya
mati. Kemampuan menulis yang sudah saya bangun sejak SD mendadak mati.
Berkelana entah kemana. Jangankan menyelesaikan satu cerpen. Menulis sebait
puisi saja pada waktu itu membutuhkan waktu hingga satu bulan lamanya. Jangan tanya
bobotnya. Bisa saya katakana bahwa puisi-puisi saya ketika kuliah bobrok tak
memiliki nilai jual sama sekali. Semuanya hancur. Cerpen juga begitu. Jangankan
satu bulan, setahun pun saya tak mampu menghasilkan satu cerita, padahal media
seperti laptop, email, internet gratis, semua tersedia. Mengingat masa itu saya
bisa mendadak gila.
Mati
di dunia literasi memberikan nyawa baru di dunia lain. Banyak kegiatan yang
saya jalani, tapi semuanya tak pernah memberikan kepuasan. Berbeda rasanya
dengan mampu membuat satu tulisan sampai selesai. Meskipun hanya satu paragraf
tapi rasanya sangat bahagia dan tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Saya
mulai menyadari bahwa passion saya
bukan menjadi aktivis yang banyak dipuja mahasiswa baru, melainkan dunia
literasi terutama fiksi. Dunia saya adalah dunia menulis yang sudah Tuhan
tunjukkan sejak masih di bangkus SD. Saya bodoh. Saya tidak peka dengan kode
dari Allah. Tuhan sudah baik sekali menunjukkan jalan, tapi saya mangkir dan
terlena dalam godaan.
Matinya
jari-jari tangan untuk menulis ternyata menyadarkan bahwa saya harus hidup
kembali. Saya semakin yakin dan sadar bahwa menulis adalah dunia saya yang
sampai kapan pun tak akan pernah tergantikan. Saya juga mulai paham mengapa
saya harus menulis. Padahal beberapa tahun lalu, ketika ditanya alasan menulis
saya tak pernah memiliki jawaban baku. Menulis
ya menulis, menulis karena saya senang melakukannya. Hanya begitu prinsip
yang bisa saya lontarkan. Perjalanan panjang sejak sekolah dasar hingga merasa
mati konyol semakin membuka mata saya bahwa saya memang harus menulis. Tersesat
di dunia lain membuat saya semakin yakin
sekaligus bersyukur karena dapat mengintisarikan alasan-alasan mengapa saya
harus kembali menulis. Butuh waktu hampir 22 tahun bagi saya menukan jawaban, “mengapa
saya harus menulis?” pertanyaan yang sepele namun jawabannya adalah dasar hidup
seorang penulis.
- Menulis adalah Cara untuk Bahagia
![]() | |||
| I am Happy |
Adakah cara lain untuk bahagia (bagi seorang
penulis) selain membuat tulisan (dan selesai)? Saya yakin tidak. Mengerjakan
hal yang kita sukai adalah kegiatan yang paling menyenangkan dan tak mengenal
kata bosan. Seenak-enaknya pekerjaan adalah pekerjaan yang sesuai passion. Ketika tidak bisa menulis,
perasaan menjadi kacau tapi tak pernah paham dengan sumber kekacauan itu.
Ketika menulis (dan selesai) mendadak berubah bahagia dan tak pernah tahu
alasan bahagianya. Bahagia memang tak pernah memiliki definisi konkret bukan? Begitulah
menulis bagi saya. Menulis adalah cara saya untuk merasa bahagia meski saya tak
pernah bisa menjabarkan perasaan bahagia itu seperti apa.
2. Menulis adalah Cara
untuk menjadi Tuhan yang ke-2
![]() |
| Menjadi tuhan ke-2 |
Saya tidak sedang menantang Tuhan. Saya
tahu betul bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Mengapa
saya katakan bahwa menulis adalah cara menjadi Tuhan yang kedua? Menjadi
penulis adalah cara saya untuk dapat menciptakan apa saja. Gunung, sungai, bentuk
awan, angin, tanah, bahkan manusia dengan berbagai macam rupa, bentuk,
karakter, dan jiwa yang bagaimana pun dapat saya ciptakan semau dan sesuka hati
saya. Tentu semuanya dalam bentuk dunia fiksi. Jika Allah adalah Tuhan di dunia
nyata, maka menjadi penulis adalah Tuhan di dunia fiksi. Saya yang seorang anak
sulung dan mendampakan seorang kakak laki-laki sangat mungkin memiliki kakak
laki-laki bukan? Dengan karakter dan fisik yang sesuai dengan keinginan saya
sebagai adik perempuan. Yap, saya adalah Tuhan di dunia saya sendiri. Tuhan
ke-2. Saya bisa menciptakan kakak laki-laki yang saya inginkan dengan menjadi
penulis. Begitukan kuasa Tuhan? Menciptakan yang tidak ada menjadi ada dan yang
tidak mungkin menjadi mungkin.
3. Menulis adalah Cara
untuk menjadi Siapa Saja
![]() |
| I can be a Chef |
Saya adalah tipe orang yang tidak pernah
bisa puas dengan satu hal. Saya ingin bisa jadi guru, dokter, jaksa, nelayan, petani,
wartawan, koki, hingga presiden. Menjadi penulis adalah cara saya untuk bisa
menjadi semua yang saya inginkan. Ketika ingin menjadi guru, maka saya menulis
cerita tentang guru dan dari sudut pandang guru. Jadilah saya seorang guru yang
dengan wibawanya memberikan pengajaran. Ketika saya ingin menjadi seorang
petani, maka saya belajar mengenai kehidupan para petani dan jadilah saya
petani. Petani yang tak perlu memiliki sawah berhektar-hektar tapi paham
bagaimana cara petani menjalani kehidupan. Petani yang dengan kisah hidupnya
mampu mengingatkan para penguasa mengenai rakyat yang dipimpinnya. Begitu pula
dengan profesi lain. Menjadi ustadzah yang siap berdakwah, menjadi jaksa yang
menularkan sifat bijaksana, atau menjadi peternak kambing yang siap memberi
informasi tentang cara memelihara kambing. Dalam satu minggu saya dapat menjadi
siapapun yang saya inginkan dan saya impikan. Semua hanya terjadi ketika saya
menulis. Menulis memberikan ruang bebas untuk menjadi siapa saja dan apa saja
yang saya inginkan meski hanya bermodal mimpi.
4. Cara
untuk semakin Cinta kepada-Nya
![]() |
| Senantiasa Bersyukur |
Menjadi penulis adalah pekerjaan yang
menuntut kepekaan. Peka terhadap lingkungan, peka terhadap sesama manusia, dan
peka terhadap Tuhan. Semakin peka mengenai apa yang terjadi, fenomena tsunami, puting
beliung, longsor, kecelakaan, semuanya adalah media untuk paham tentang
tanda-tanda kuasa-Nya. Tentang kode-kode dari Tuhan, semuanya menjadikan saya
semakin cinta kepada-Nya. Tanda-tanda yang kecil namun sangat berarti. Tanpa menjadi
penulis dan menuliskannya, mungkin saya tak pernah peka terhadap kuasa-Nya.
5. Cara
untuk Menunjukkan bahwa Haniah Pernah Ada
![]() |
| Karya! Bukan Bicara |
Eksistensi atau kebutuhan untuk diakui
adalah salah salah satu kebutuhan hidup seorang manusia. Menjadi penulis adalah
alasan saya untuk bisa diakui bahwa seorang Haniah pernah hidup di sebuah
planet bernama bumi. Diakui bagi saya tak melulu soal menjadi terkenal atau
menjadi orang yang dihormati banyak kalangan. Diakui bagi saya adalah ketika
orang-orang dapat merasakan kebermanfaatan dari apa yang saya miliki, meski
hanya sesuap nasi. Minimal dengan menjadi penulis, pihak “Pustaka Buku
Nasional” pernah mencatat judul buku yang pernah saya tulis dan mereka memiliki
pekerjaan (beserta gaji) karena hal itu.
6. Cara
untuk Menjemput Pasangan Hidup Saya
![]() |
| The Best Couple is with Same Passion |
Alasan terakhir ini sesungguhnya saya
sedikit ragu, tapi tidak dapat saya hapuskan. Memiliki pendamping hidup yang
ber-passion sama adalah impian saya. Bagaimana
tidak, sesama ber-passion menulis dan
hidup dalam satu atap akan senantiasa memberi semangat menulis dan saling memberikan
masukan tanpa minta gaji. Kata orang hal itu membosankan, bagi saya tidak.
Bagaimana mau bosan bila setiap hari ada seseorang yang berusaha menjadikan
kita lebih baik. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang selalu
berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya? Penulis menurut saya adalah orang yang peka
dan sabar, karena menulis tak bisa lepas dari kepekaan dan keuletan. Dua hal
itu adalah syarat mutlak sikap seorang laki-laki versi saya hehe.
Alasan hanya akan menjadi alasan ketika tidak diiringi tindakan. Alasan dan tindakan akan menjadi tonggak perubahan bila digabungkan dengan benar.
Mohon diaminkan. Lets write















Kereen mba Hanii :)
BalasHapusterima kasih mbak. semangat menulis ya :)
HapusWaahh... Kerennn..
BalasHapusMembaca awal2 paragraf serasa berkaca pada masa kecil saya mba hani..
Tetap semangat menulis, dan penunggang kuda putih bersenjata pena akan datang berkunjung..
Ehm..ehm
lucu ya mbk baca puisi-puisi SD. Polos bgt haha.
HapusAmiin. semoga si pengeran segera datang *eh :V
Wah, ini mah sudah bukan penulis pemula lagi. Top markotop pokoknya
BalasHapuscoach, saya bukan apa-apa dibanding coach hehe.
Hapus