Minggu, 21 September 2014

Pada Sepasang Mata




Siapa sangka tatapan tajam itu adalah alat bicara. Ia mencari sebuah arti yang terkubur dalam hati. Menelisik, merasuk dan mencari-cari jawaban dengan penuh harap. Satu kali tak ia temukan, dua kali ia kerjakan, tiga kali sang pemilik mata tajam mengakhiri pencarian. Apa sudah kau temukan jawaban?

Mari bertanya pada seluruh perempuan di alam semesta. Adakah yang berani menjatuhkan pandangan pada lensa jernih itu? Tidak. Apalagi aku, melihatmu diujung jalan saja aku jadi kaku, berbicara denganmu membuat kata-kata indah yang sudah aku susun tiba-tiba rontok tak menentu.
Aku memilih berteman dengan diam untuk meredakan degub jantung yang tak karuan. Biarlah, biarlah aku simpan bersama doa ditiap malam.
 Ingat, tak usah kamu memintaku mendoakanmu, karena itu sudah menjadi urusan wajibku.
Ibarat kau berdiri pada sebuah kapal, aku tidak akan pernah melarangmu untuk berlayar. Berlayarlah, berlayarlah sejauh apa yang kamu mampu. Berkelanalah seluas hingga kamu puas. Jauh-jauhlah dariku agar kamu sadar siapa yang sedang merindu dan kamu rindu. Tanyalah pada hatimu, siapa itu?
Apa yang bisa kita lakukan selain saling mendoakan dan mengingatkan. Sampaikan pesanmu melalui hati dalam ibadah di sepertiga malam, yakini Allah-lah yang akan menyampaikan. Begitu pula aku, aku sampaikan doa dan harapan untuk kesehatanmu bersama simpuhku. Percayalah, bila sesuatu itu disampaikan melalui hati maka sampainya juga ke hati.
Jikalau kamu lelah dalam usaha memberitahuku, maka tulislah pada selembar kertas putih dan simpanlah dengan rapi hingga suatu hari nanti aku siap memiliki dan dimiliki. Hingga gunung keberanian sudah meninggi dan awan mendung yang menutupi telah pergi.
Pada sepasang mata,  lihatlah bulan ketika purnama menyapa maka pandangan kita akan bertemu disana. Pada saat itu akan aku sampaikan jawaban yang kamu mau.

0 komentar:

Posting Komentar