Siapa sangka tatapan tajam itu adalah alat bicara.
Ia mencari sebuah arti yang terkubur dalam hati. Menelisik, merasuk dan
mencari-cari jawaban dengan penuh harap. Satu kali tak ia temukan, dua kali ia
kerjakan, tiga kali sang pemilik mata tajam mengakhiri pencarian. Apa sudah kau
temukan jawaban?
Mari bertanya pada seluruh perempuan di alam
semesta. Adakah yang berani menjatuhkan pandangan pada lensa jernih itu? Tidak.
Apalagi aku, melihatmu diujung jalan saja aku jadi kaku, berbicara denganmu
membuat kata-kata indah yang sudah aku susun tiba-tiba rontok tak menentu.
Aku memilih berteman dengan diam untuk meredakan
degub jantung yang tak karuan. Biarlah, biarlah aku simpan bersama doa ditiap
malam.
Ingat, tak usah kamu memintaku mendoakanmu, karena itu sudah menjadi urusan wajibku.
Ibarat kau berdiri pada sebuah kapal, aku tidak akan
pernah melarangmu untuk berlayar. Berlayarlah, berlayarlah sejauh apa yang kamu
mampu. Berkelanalah seluas hingga kamu puas. Jauh-jauhlah dariku agar kamu
sadar siapa yang sedang merindu dan kamu rindu. Tanyalah pada hatimu, siapa
itu?
Apa yang bisa kita lakukan selain saling mendoakan
dan mengingatkan. Sampaikan pesanmu melalui hati dalam ibadah di sepertiga
malam, yakini Allah-lah yang akan menyampaikan. Begitu pula aku, aku sampaikan
doa dan harapan untuk kesehatanmu bersama simpuhku. Percayalah, bila sesuatu
itu disampaikan melalui hati maka sampainya juga ke hati.
Jikalau kamu lelah dalam usaha memberitahuku, maka
tulislah pada selembar kertas putih dan simpanlah dengan rapi hingga suatu hari
nanti aku siap memiliki dan dimiliki. Hingga gunung keberanian sudah meninggi
dan awan mendung yang menutupi telah pergi.
Pada sepasang mata,
lihatlah bulan ketika purnama menyapa maka pandangan kita akan bertemu
disana. Pada saat itu akan aku sampaikan jawaban yang kamu mau.








0 komentar:
Posting Komentar