Kamis, 04 Oktober 2018

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG (SEBUAH MAHAKARYA YANG TENGGELAM)


Gadis  yang pikirannya dapat dicerdaskan, pandangannya sudah luas, tidak akan sanggup lagi hidup di dunia nenek moyangnya.
(R.A. Kartini, 1900)

Tokoh perempuan yang kehadirannya selalu diperingati setiap 21 April ini terkenal dengan buku yang dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang . Buku tersebut sebenarnya adalah kumpulan lebih dari 100 surat yang ditulis Raden Adjeng Kartini untuk sahabat penanya. Dalam versi aslinya, buku itu ditulis dalam bahasa Belanda, yaitu Door Duistemis Tot Licht.
Habis Gelap Terbitlah Terang adalah versi terjemahan Armijn Pane yang terbit tahun 1938 dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno yang diberi judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Sayang sekali, masyarakat Indonesia kebanyakan tidak mengetahui bahwa yang menulis atau membukukan surat-surat R.A. Kartini pertama kali bukanlah R.A. Kartini sendiri, melainkan salah seorang Belanda bernama Abendanon. Kenyataan ini begitu pahit, mengingat hampir semua orang yang mendengar nama R.A. Kartini akan beranggapan bahwa ia adalah penulis buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Sebuah informasi sederhana tapi menyimpang dari fakta sejarah yang ada.
Hari Kartini berlangsung tiap tahun secara dramatis. Masyarakat lebih larut dalam euphoria siapa yang akan berdandan paling cantik. Berkebaya dan bersanggul untuk para perempuan tapi kurang paham dengan esensi dari nama maupun peringatan hari lahir R. A. Kartini. Selama ini, perayaan Hari Kartini selalu dirayakan begitu saja. Tidak banyak elemen msyarakat yang berusaha mencari tahu isi pemikiran Kartini yang dituangkan dalam surat-suratnya. Bahkan, tak banyak perempuan yang membaca buku Habis Gelap Terbitlah Terang untuk mengenang jasa-jasanya apalagi memperingati hari lahirnya.
Tentu, masih menjadi pemikiran kenapa perayaan Kartini selalu diwujudkan dengan pemakaian konde dan kebaya (atau pakaian nasional lainnya). Padahal itu jauh dari esensi Kartini yang ditetapkan Soekarno sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964. Oleh karena itu, amat penting bila kaum perempuan mengetahui apa sebenarnya yang menjadi buah pikiran Kartini dalam surat-suratnya. Ia menulis dalam bahasa Belanda kepada sahabat-sahabatnya, antara lain Estella H Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya RM Abendanon-Mandri, Tuan Prof Dr GK Anton dan Nyonya, Hilda G de Booij, dan Nyonya van Kol.
Kartini adalah salah satu putri Bupati Jepara. Ibunya hanya gadis biasa yang bukan keturunan ningrat, sehingga harus rela dimadu dan dijadikan pembantu untuk anaknya sendiri.  Sang suami (Bupati Jepara) harus rela menikah lagi untuk bisa menjadi Bupati. Kenyataan pahit itulah yang kemudian membuat Kartini kecil kecewa dan mulai berpikir untuk memberontak adat yang ada. Kartini adalah salah satu putrid yang beruntung karena menjadi cucu Pangeran Ario Tjondronegoro yang terkenal memiliki pemikiran kritis dan menyekolahkan generasi-generasi di bawahnya di sekolah HBS (sekolah Belanda).
Pemberian pendidikan itulah yang membuat Kartini memiliki daya piker yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak seusianya. Hingga pada usia empat belas tahun, Kartini harus menjalani masa pingitan. Di masa-masa pingitan itulah Kartini seperti menjadi kempompong yang menunggu untuk menjadi kupu-kupu indah. Tidak adanya kesempatan menghirup udara luar, membuat Kartini hanya bias menjalani hari-harinya dengan membaca buku di kamar pingitan. Siapa sangka keterbatasan itulah yang malah membuat pemikirannya semakin cemerlang dan tajam. Kartini mulai bias mencurahkan gagasan kritisnya tentang nasib tragis perempuan pribumi ke dalam tulisan-tulisan. Dari tulisan-tulisan itulah Kartini dikenal sebagai perempuan pemberontak adat oleh lingkungan keluarganya, tetapi orang-orang Balanda yang mengenalnya malah memberikan apresiasi tinggi hingga menjanjikannya untuk bias bersekolah di negeri Belanda.
Lewat keseharianya dalam memperjuangkan hak perempuan pribumi untuk mendapat pendidikan, Kartini banyak bertukar pemikiran melalui teman-temannya di HBS yang telah kembali ke Negara Belanda. Kartini aktif menulis surat kepada mereka dan mencurahkan keluh kesahnya tentang keinginan membangun sekolah pertama bagi perempuan pribumi. Surat-suratnya itulah yang kemudian dibukukan dan menjadi salah satu mahakarya yang sayangnya kurang mendpat perhatian apalagi penikmat untuk membaca dan mengilhaminya.
Salah satu tulisan Kartini adalah sajak Jiwa yang terasa sangat menyentuh, syahdu, dan romantis. "Bahagia nian bila bertemu jiwa yang sama," tulis Kartini. Kata-kata yang disampaikan mewakili keinginan Kartini menemukan jiwa yang sama, yang seiring sejalan dengannya. Kartini sangat menginginkan teman yang memiliki cita-cita dan pemikiran yang sama untuk mengentaskan perempuan pribumi dari ketertindasan adat yang pada waktu itu sangat merugikan kaum perempuan. Salah satunya adalah system pingitan yang juga menimpa dirinya, juga poligami yang banyak dilakukan bupati-bupati saat itu.
Kartini tidak menyukai perkawinan dan poligami, karena ayahnya sendiri berpoligami. Tampak bagaimana gundahnya Kartini akan perkawinan dan akan cinta yang rasanya mustahil ada. Hingga ketika ia dinikahi oleh bupati Rembang, salah satu syarat yang ia ajukan adalah tidak ingin dipoligami dan tidak ingin membasuk kaki suaminya (karena menyimbolkan kedudukan perempuan yang rendah atas laki-laki. 
Kartini ternyata merupakan sosok yang riang. Surat pertamanya pada Stella menggambarkan suasana perkenalan dan gagasan Kartini akan emansipasi. Katanya, sudah lama sekali dia (Kartini) menginginkan kebebasan. Selama ini sebagai perempuan, dia merasa dikurung di dalam rumah. Titik terang hanyalah saat dia bisa membaca buku dan menuliskan surat pada teman-temannya. "Hukum dan pendidikan hanya milik laki-laki belaka," tulis perempuan yang lahir 21 April 1899 ini. Kartini adalah yang penuh semangat, berseri-seri, dan berani berteriak lantang. "Tahukah kamu apa semboyan saya, 'Saya Mau!' Dua patah kata pendek itu sudah melalui bergunung-gunung rintangan," sorak dalam surat-suratnya.
Dalam surat lainnya, Kartini mengungkapkan bahwa jalan yang dia tempuh saat itu, berbatu-batu, terjal, dan belum dirintis. Itulah jalan menuju kebebasan perempuan bumiputera. Kartini bahagia karena boleh mengajar jadi guru di sekolah yang ia dirikan. Baginya, pendidikan adalah perkara penting. Rasanya satu mimpi sudah terwujud. Di surat-surat ini, yang tampak adalah Kartini yang terus berdebat dengan pikiran-pikirannya.Di mata koleganya, Kartini memang dikenal suka bercerita dan bersemangat di setiap kata-katanya. Bagaimana ia bercerita tentang seorang anak malang yang ia temui di jalan dan mendorongnya untuk tetap berjuang.
Ia juga sempat menyoalkan agama dalam suratnya yang ditulisnya pada sahabatnya, Stella Zeehandelar. Kartini berkeluh tentang agama Islam yang dia anut karena nenek moyangnya beragama Islam. Tentang Quran yang bisa dibaca, tapi tak dipahami maknanya. Hingga puncak kekecewaan atas ketidaktahuan makna al-quran menggiringnya untuk tidak melakukan ibadah salat. Kartini sangat ingin tahu tentang isi al-quran dan pernah mendebat kiai-kiai yang mengajarinya mengaji.
Dari surat-suratnya tersebut, tertangkap jelas bahwa Kartini adalah sosok yang peka terhadap apa yang terjadi di lingkungannya, kaya akan buah pikiran, dan berani mengawali perbuhan. Itulah yang ingin disampaikan Kartini melalui surat-suratnya di dalam mahakarya Habis Gelap Terbitlah Terang. Jadi dapat disimpulkan bahwa, hari Kartini dan karya tentang Kartini bukan hanya soal konde dan kebaya saja. Melainkan tentang semangat emansipasi yang semestinya. Sudah sepatutnya para perempuan Indonesia mulai mencicipi surat-surat Kartini agar lebih mantab dalam menyelami makna emansipasi ala Kartini.
DAFTAR PUSTAKA
Pane, Armijn. 2009. Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta: Balai Pustaka

0 komentar:

Posting Komentar